Backpacking di Kampung Sendiri

23 05 2012

‘Kampung Sendiri’. Mungkin ada yang bingung, tempat apa itu? Semacam tidak ada di peta, terlebih di google map. Yap, jangan dulu merasa wawasan Anda kurang luas dengan tidak mengetahui dimana itu Kampung Sendiri. Saya pun belum pernah mendengar nama kampung se-galau itu.

Lahir dan besar di Bandung membuat saya mengakuinya sebagai kampung halaman saya. Namun seumur-umur saya hidup di kota Parahyangan ini, belum pernah saya begitu mengeksplor keindahan di setiap sudut kotanya. Alasannya klasik: gak ada waktu. Hingga teman saya dari Kupang datang ke Bandung, saya semacam tiba-tiba memiliki waktu (dan uang) untuk menjelajah kota binaan Bapak Dada Rosada (per 2012) ini.

1.       Gedung Sate

Sebagai neng Bandung saya mengaku belum pernah berfoto di depan gedung ikon kota Bandung ini. Gedung yang selalu disalahartikan orang sebagai pusat kuliner sate ini sebenarnya adalah kantor gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat. Arsitekturnya (katanya sih) adalah campuran mode Indo-Eropa. Bahasa sundanya: Indo Europeeschen architectuur  stijl. Bangunan ini kokoh berdiri dari zaman kolonial Belanda, dan masih mempertahankan gaya arsitekturnya hingga sekarang.

2.       Jalan Braga

Destinasi selanjutnya adalah jalan Braga, jalan satu arah yang memusingkan saya saat ternyata saya terlalu jauh melewati jembatan sungai Cikapundung, sehingga harus memutar kembali untuk sampai di ujung jalan Braga. Jalan ini berupa paving block yang sudah agak rusak dimakan usia dan karet ban. Sepanjang jalan Braga terdapat kafe, toko souvenir khas Jawa Barat, dan toko lukisan. Awalnya saya niat meminta akang-akang untuk melukis wajah saya, tapi ternyata tarifnya jahannam, komandan!

Jalan Braga kami habiskan dengan hanya berfoto di pinggir jalannya, sambil melihat-lihat kawanan bule yang juga ternyata sedang backpacking. Enjoy the trip atuh nya, mister!

3.       Gedung Merdeka (Gedung Konferensi Asia Afrika)

Selama saya menapaki tanah Parahyangan, (lagi-lagi) saya tidak pernah sedikit ngeh bahwa ada yang namanya Gedung Merdeka. Ya, saya tahu sih ada gedung itu, tapi ternyata saya baru ke sini rupanya. Euh, kamana wae atuh neng?

Gedung ini terletak di jalan Asia-Afrika dan pernah menjadi gedung untuk Konferensi Asia-Afrika (ya iya lah, neng! Itu sebabnya nama jalannya adalah Asia-Afrika, kan?).

Yang saya tahu gedung ini sekarang dijadikan sebagai museum. Beberapa kali juga ada pertemuan yang digelar di gedung ini. Dengan desain Dutch serta tempatnya yang dekat dengan Hotel Savoy Homann, daerah sekitar gedung ini masih terasa kental hawa kolonial (dan konon hawa mistis Nona Belanda-nya juga. Hiiii!)

Berjalan dari Jalan Braga, ternyata ada jembatan penyebrangan yang ada di sana. Jembatan ini besar dan luas. Entah untuk apa, karena setahu saya lebar jembatan penyebrangan tidak perlu sampai sekitar 10 meter, kan? Jembatan ini sepertinya tidak lagi difungsikan, karena orang-orang lebih suka menyebrang di bawahnya, sehingga jembatan ini dijadikan tempat tinggal roadrunners (jika saya tidak boleh menyebutnya orang jalanan). Bau pesing menyeruak seiring anak tangga yang kami naiki.

4.       Masjid Agung

Sedikit menoleh ke arah kanan dari Gedung Merdeka, kita dapat melihat menara tinggi, namun bukan setinggi Eiffel. Sedikit lagi mendekat, ternyata menaranya ada dua. Apakah itu Petronas?

Bukan, ternyata, melainkan menara Masjid Agung, masjid ter-agung di Bandung. (doh!).

Masjid yang berada di alun-alun kota Bandung ini selalu ramai dikunjungi publik. Entah untuk datang ke pasar kaget di halaman masjid, berwisata naik ke lantai menaranya yang mencapai 20 lantai, atau untuk melaksanakan ibadah shalat (sebagaimana fungsi masjid seharusnya).

Hawanya teduh walau matahari menyengat. Orang-orang di sana begitu ramah. Wajah mereka berseri walau dagangan mereka belum tentu laris sehari. Entahlah, mungkin hawa itu muncul sebagai efek euforia karena saya baru makan syomay setelah sekian lama.

Anyway, Masjid Agung Bandung adalah tempat istirahat yang paling menyejukkan di tengah panasnya alun-alun Bandung.

 

5.       Kebun Binatang Bandung

Baiklah, ini adalah destinasi terakhir backpacking kami, dan mungkin adalah klimaks dari cerita saya, yang menunjukkan betapa tidak gaulnya saya dengan objek wisata di kota kelahiran.

Empat tahun saya berkuliah di ITB, saya belum pernah (hingga kemarin) menginjakkan kaki di Kebun Binatang Bandung. Selain karena saya takut binatang, konon mahasiswa ITB dilarang mengunjungi kebun binatang ini sebelum lulus, karena jika demikian mahasiswa tersebut tidak pernah lulus. Dan agaknya mitos tersebut benar adanya, mengingat saya yang lebih bersemangat menulis blog daripada menulis Tugas Akhir.

Anyway, Kebun Binatang Bandung menyajikan panorama yang tidak jauh berbeda dengan kebun binatang sekelas Taman Safari. Wilayahnya lebih kecil, memang, namun koleksi binatangnya terbilang lengkap untuk wilayah sekecil itu, dan setersembunyi itu di balik gedung laboratorium ITB.

Overall, Kebun Binatang Bandung bisa menjadi alternatif tempat berkumpul keluarga, atau sekedar berkumpul arisan bersama teman sambil menikmati pemandangan alam terbuka yang masih original dari alam Bandung.

 

Oh ya, omong-omong, sudah tahu kan dimana itu Kampung Sendiri :) ?





Nice Proverb

15 05 2012

Seringkali saat sedang dirundung masalah besar, seakan kitalah paling manusia paling menderita di dunia, selalu cukup alasan untuk tenggelam merenungi nasib, asyik menyelimuti diri dengan emosi negatif dan berkeluh kesah.
Tidak sadarkah bahwa pada saat bersamaan kita melewatkan berbagai masalah yang berserakan di masyarakat dari peran serta kita untuk menanggulanginya? Sebagai bagian dari amanah hidup kita menebar rahmat lil alamiin?

Berapa banyak waktu, pikiran, tenaga yang terbuang sia-sia?

Serta berapa kesempatan pengembangan diri yg terpendam tanpa sempat teraktualisasikan menjadi buah profesionalitas?

By: Erwin Bachtiar.





Investigasi Kecelakaan Pesawat de Havilland Comet (1954)

11 05 2012

Bangun pagi, saya langsung disuguhi berita mengenai jatuhnya pesawat milik Rusia, Sukhoi, di kawasan Gunung Salak, Jawa Barat. Hingga hari tulisan ini ditulis pun investigasi belum membuahkan hasil signifikan. Entah karena cuaca yang tidak bersahabat, kesalahan pilot, perawatan mesin yang tidak baik, atau mungkin hingga tataran organisasi yang berpotensi menjadi sumber masalahnya.

Tidak jauh dari itu, saya akan ulas hal serupa. Namun tulisan kali ini bukan untuk membahas Sukhoi, melainkan mengenai investigasi kecelakaan pesawat, beberapa tahun silam, yang disebabkan oleh kesalahan desain pesawat. Ulasan ini merupakan salah satu bahan yang dibahas (dan bahkan ditugaskan) pada pertemuan pada mata kuliah Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

Adalah pesawat Comet, pesawat jet pertama yang diproduksi pada masanya. Diproduksi oleh de Havilland di Hatfield, Hertfordshire, Inggris, prototipe Comet 1 terbang perdana pada tanggal 27 Juli 1949. Fitur aerodinamis dilengkapi dengan empat Ghost Turbojet Engine yang dipasang pada kedua sayapnya membuat pesawat ini menjadi icon pesawat jet paling nyaman di masanya. Kesuksesan ini pun mengantarkan de Havilland unggul dalam persaingan maskapai penerbangan lainnya saat itu.

10 Januari 1954, Comet G-ALYP terbang dari Roma ke London, rute terbang terakhir dari rangkaian penerbangan panjangnya dari Singapura, membawa 29 penumpang dan enam awak pesawat. Dipimpin oleh kapten Alan Gibson, pesawat tersebut lepas landas pada pukul 09.34 waktu setempat ke bandar udara London Heathrow, London.

Pesawat Comet direncanakan terbang di ketinggian 11.000 kaki di atas permukaan laut. Dengan ketinggian tersebut, pesawat dilengkapi dengan sistem kontrol tekanan udara di dalam kabin agar penumpang dapat tetap bernapas dengan normal. Dalam perjalanan mengudaranya, pesawat Comet G-ALYP tersebut masih dapat berkomunikasi dengan pesawat lain, Argonaut G-ALHJ, yang dipimpin oleh kapten Johnson lewat radio pesawat. York Peter adalah kode untuk Comet G-ALYP, dan How Jig untuk Argonaut G-ALHJ, sesuai dengan kode pesawat masing-masing. Namun setelah 20 menit mengudara, hubungan dengan pesawat Argonaut pun terputus. “George How Jig, did you get my …” begitu pesan terakhir dari Comet. Dan tepat pada saat ini lah puing-puing badan pesawat terlihat berjatuhan di sekitar pulau Elba, Italia.

Kecelakaan ini sontak mengejutkan publik, termasuk BOAC, korporat maskapai penerbangan Inggris. BOAC memutuskan untuk membatalkan semua penerbangan dengan de Havilland Comet hingga investigasi ini berujung kepada simpulan yang signifikan. Gerry Bull, senior engineer dari BOAC yang bertugas memeriksa kelayakan pesawat sebelum lepas landas yakin bahwa ia tidak menemukan kerusakan komponen atau bagian penting lain pada pesawat tersebut. “What did I do? Did I missed something?” – begitu katanya sesaat setelah mendengar berita jatuhnya pesawat.

Investigasi

Tanpa bukti, black box, cockpit voice recorder, dan saksi selamat, investigasi diperkirakan akan sulit dilakukan. Media melansir bahwa kecelakaan adalah bentuk sabotase. Ada pula pemberitaan terkait terorisme. Untuk meredam isu tersebut, BOAC memerintahkan Abell Committee Court untuk menyelidiki sumber kecelakaan. Hipotesis awal Abell Committee adalah bahwa penyebab potensial kecelakaan tersebut bersumber dari ledakan. Karena itu, beberapa perubahan terkait proteksi engine dan desain sayap pun dilakukan.

Selama investigasi, Royal Navy memimpin operasi recovery. Operasi ini sangat berat, terutama karena ketidakmapanan teknologi saat itu. Bangkai pesawat yang tenggelam sedalam 102 meter di bawah permukaan laut menyulitkan pasukan maritim untuk menyelam dan mengangkatnya. Puing pertama dari pesawat ditemukan pada Februari 1954 dan diinvestigasi hingga September 1954. Hasil rekonstruksi forensik belom menunjukkan hasil signifikan, kecuali bahwa mayat korban tidak menunjukkan adanya luka akibat ledakan, namun hanya patah tulang dan retaknya tempurung kepala. Karena tidak ditemukan penyebab signifikan lainnya, pemerintah Inggris memutuskan untuk mempublikasikan hasil penyelidikan mengenai kronologi kecelakaan pesawat, hasil investigasi yang dilakukan, serta efek finansial dari dihentikannya penerbangan Comet.

Menimbang besarnya kerugian finansial yang ditimbulkan akibat ‘parkirnya’ pesawat Comet, pada tanggal 2 April di tahun yang sama, pemerintah Inggris memberikan izin kepada BOAC untuk kembali membuka penerbangannya. Ya, pesawat Comet siap untuk kembali lepas landas melayani publik.

Comet pasca investigasi

Pada 8 April 1954, tiga bulan setelah kecelakaan di Pulau Elba, pesawat Comet lainnya resmi dioperasikan. Kali ini Comet G-ALYY (Yoke-Yoke) terbang dari Roma ke Kairo, perjalanan singkat dari rangkaian penerbangan panjang dari London ke Johannesburg. Penerbangan ini juga sekaligus menjadi titik balik kepercayaan publik terhadap kejayaan de Havilland. 14 penumpang dan tujuh awak pesawat ikut serta dalam penerbangan ini. Pada pemeriksaan terakhir di Roma, Gerry Bull beserta tim engineering dari BOAC menemukan gauge bahan bakar tidak berfungsi walau tanki telah terisi penuh. Namun hal ini dapat diantisipasi dengan pemasangan kabel sementara. Pesawat pun siap untuk lepas landas.

Cuaca cerah dengan sedikit awan membuat pihak BOAC optimis dengan penerbangan panjang ini. Dengan terbang di ketinggian 11.600 kaki di atas permukaan laut, pesawat Comet G-ALYY terbang melewati beberapa air traffic controller di yaitu Ponza dan Naples. Tiga jam selepas penerbangannya dari Roma, pesawat Comet G-ALYY meledak di dekat Naples, perairan Mediterania, menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat. Gerry Bull, senior engineer dari BOAC, kembali dilanda kebingungan bahwa kecelakaan kali ini menunjukkan pola yang sama dengan G-ALYP.

Mendengar kabar ini, perdama menteri Inggris, Winston Churcill memerintahkan Royal Navy untuk melakukan investigasi besar-besaran dengan memungut bangkai pesawat yang jatuh di perairan Mediterania untuk dibandingkan dengan bangkai pesawat di perairan Pulau Elba.“The cost of solving Comet mystery must be reckoned neither in money nor in manpower,” terang Churcill. Semua penerbangan Comet lainnya resmi dihentikan hingga hasil investigasi selesai. Pesawat Comet ‘diparkir’ di hanggar dan siap untuk tidak lepas landas hingga waktu yang belum ditentukan.

“The Cost of solving Comet mistery must be reckoned neither in money nor in manpower”

(Winston Churchill, 1954)

Investigasi G-ALYP dan G-ALYY

Hasil penelusuran forensik terhadap korban pesawat Comet menunjukkan tidak adanya luka akibat ledakan, namun pola yang sama ditemukan adalah kerusakan tempurung kepala, serta kebocoran pada paru-paru. Jelas bukti ini bukan disebebkan oleh ledakan bom teroris. Dari bukti ini hipotesis kembali mengerucut kepada kemungkinan bahwa kecelakaan pesawat disebabkan oleh tekanan tinggi dalam ruang kabin.

Untuk membuktikan hal tersebut, Cohen Committee, yang dipimpin oleh Sir Arnold Hall, ilmuwan dari Cambridge University, diperintahkan untuk melakukan investigasi tekanan kabin. Pada percobaan ini, Hall melakukan simulasi tekanan udara dalam kabin pada pesawat Comet GL-ALYU (York Uncle) yang disumbangkan untuk keperluan investigasi. Pesawat ini ditempatkan di dalam tangki air raksasa (sebesar badan pesawat, tentunya). Air dipompakan ke dalam pesawat untuk mensimulasikan kondisi tekanan pesawat saat terbang. Jika investigasi dilakukan di era tahun 2000, mungkin tidak perlu sesulit itu untuk mensimulasi tekanan kabin pesawat, ya?

Hasil dari simulasi ini adalah bahwa pada tekanan tertentu, logam badan pesawat terbuka, sambungannya lepas terutama pada sambungan antar logam dengan jendela, dan kabin bagian depan terbuka terlebih dahulu. Bagian kabin yang terbuka disinyalir adalah ADF window, suatu bagian pesawat berupa celah, didesain sebagai jalan masuk-keluarnya udara dari sistem navigasi elektronik. Temuan sederhana ini menjadi awal mula ditemukannya konsep (dengan istilah yang terasa lebih modern), metal fatigue.

Metal fatigue adalah perubahan struktur logam yang disebabkan oleh tekanan secara berulang (repetitif). Metal fatigue dalam investigasi ini terjadi akibat perubahan tekanan dalam kabin yang repetitif sehingga menyebabkan perubahan struktur dari logam bahan dasar atap kabin. Perubahan struktur tersebut berujung pada robeknya plat atap kabin sehingga atap kabin terlepas.

Fakta berikutnya ditemukan bahwa plat logam tersebut disambung dengan rivet (semacam paku), bukan disambung dengan lem – seperti rancangan asli pesawat Comet. Dengan penelitian semodern saat ini, dapat diketahui bahwa terdapat masalah yang terjadi jika penyambungan logam dengan metode rivet dilakukan dengan cara di-punch (ditekan), bukan dengan dibor terlebih dahulu. Punching rivet ini menyebabkan adanya retakan kecil yang kasat mata pada sambungan logam. Ditambah dengan adanya perubahan tekanan dalam kabin secara repetitif, retakan ini semakin membesar sehingga pada satu titik tekanan tertentu, sambungan logam robek dan menyebabkan tekanan udara terlampau besar di dalam kabin. Inilah yang menjadi penjelasan ditemukannya kebocoran paru-paru pada jenazah korban.

(Gambar ilustrasi punching rivet menyebebkan kerusakan struktur berupa retakan mikro yang semakin melebar karena perubahan tekanan kabin secara repetitif). Sumber: http://www.youtube.com/watch?v=s1mIJRo0veU

Pasca Investigasi

Kecelakaan ini mengubah pola pikir dan paradigma di industri manufaktur pesawat. Pemasangan rivet tidak lagi menggunakan metode punching, bentuk window dibuat tidak lagi berujung tajam, namun dengan ujung yang melengkung, dan beberapa pembelajaran penting lain dalam ilmu desain pesawat terbang. Ditambah dengan teknologi simulasi yang lebih canggih, perubahan desain tersebut dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat dengan hasil yang akurat.

52 tahun setelah kejadian Comet G-ALYY, seorang ahli penerbangan, Paul Whitey, melakukan pemeriksaan bangkai pesawat Comet dan mencoba mendeteksi lempengah logam dengan menggunakan mikroskop elektron. Dari hasil mikroskop tersebut ditemukan retakan kecil yang tak terlihat. Ia menemukan kesalahan desain manufaktur setelah melakukan pembesaran citra sebanyak 800 kali, dan kemudian menyatakan bahwa investigasi Sir Arnold Hall adalah benar.

 

Ya, dibutuhkan cara berpikir integral untuk memahami suatu permasalahan. Kecelakaan pesawat yang dahulu diduga bersumber dari kesalahan manusia, atau terlebih mesin yang tiba-tiba rusak, namun ternyata dapat juga oleh desain pesawat, suatu proses yang paling awal dari proses bisnis penerbangan komersial.

“Dalam investigasi kecelakaan kerja pun pemikiran holistik dan integral tetap harus dipegang, layaknya Industrial Engineer, kan?”- Pak I.Z.S (dalam kuliah MK3)

Mahasiswa, berpikirlah integral!

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/South_African_Airways_Flight_201

http://aviation-safety.net/database/record.php?id=19540408-2

http://en.wikipedia.org/wiki/BOAC_Flight_781

http://en.wikipedia.org/wiki/De_Havilland_Comet#cite_ref-Jones_p._68_123-0

http://flygc-aircrashinvestigation.com/2011/08/10/flygc-air-crash-investigation-comet-air-crash-boac-flight-781/

http://www.youtube.com/watch?v=s1mIJRo0veU





Jangan sekarang, Tuhan. Aku masih takut.

10 05 2012

Hari ini, ada sesuatu yang berbeda

di malam yang hujannya tak kunjung reda

saya membasuh muka, kedua tangan, tak lupa kakiku serta

kemudian menggelar sajadah, mengenakan mukena

sepatah demi sepatah kata terucap bak mantra

tapi tak seperti biasa, kali ini dengan terbata-bata

rakaat demi rakaat kulalui, dengan bersimbah air mata

Aku tak yakin mengapa

namun yang kuingat, takut mati, itu yang kurasa

 

ya, aku takut Tuhan mencabut nyawaku sekarang

dimana dosa belum terbakar menjadi arang

dimana pahala masih sangatlah amat kurang

 

Tuhan, izinkan aku menebus semua kesalahan yang pernah kulakukan.

Jangan sekarang, Tuhan. Aku masih takut.

 





Tour el Balikpapan

8 05 2012

Di hari terakhir perjalanan saya mengambil data tugas akhir di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, saya diberi waktu sehari untuk menjelajah kota Balikpapan. Kota yang terkenal dengan kepiting dan minyak ini memiliki simbol yaitu beruang madu, sejalan dengan simbolnya yaitu Manuntung (beruang madu), binatang khas kota Balikpapan yang nyaris punah. Hemm, sayang saya tidak sempat ke hutan cagar alam untuk melihat beruang madunya.

Anyway, perjalanan saya pertama adalah menuju Kebun Sayur. Ini adalah tempat membeli pernak-pernik dan oleh-oleh etnik khas Kalimantan Timur. Dari tempat saya di dekat Bandara Sepinggan, saya harus menaiki angkot nomor 5, berhenti di terminal angkot, kemudian lanjut angkot nomor 6. Angkot di Balikpapan unik. Kursinya menghadap depan, jadi serasa naik travel. Ahaha.

Dan yang paling utama, salah satu supir angkot agaknya ada pertalian darah dengan Wamen ESDM (alm) Widjajono Partowidagdo. Luar biasaaaahh!

Ehehe, mirip kan?

Di Kebun Sayur saya membeli oleh-oleh miniatur rumah adat Kalimantan Timur, serta oleh-oleh terwajib sepanjang sejarah: gantungan kunci. Gantungan kuncinya berbentuk tameng, salah satu senjata khas Kalimantan Timur yang digunakan selain Mandau. Jadi kalau Mandau itu berbentuk pedang, nah yang ini adalah tamengnya. Tapi sayang, saya tidak membeli Mandaunya. Mahal, komandan! Bukan backpacking namanya jika begini, kan?

Perjalanan selanjutnya saya niatkan hanya untuk berkeliling dengan menggunakan angkot. Saya tergolong tidak ada persiapan dalam backpack kali ini, sehingga saya pilih tempat yang mana saja asal dapat membawa saya keliling kota Balikpapan. Yang saya tahu, saya mesti menyusuri sepanjang jalan Jendral Sudirman, karena jalan ini menyusuri sepanjang bibir pantai Balikpapan. Jadi kalau capek atau bosan, tinggal beranjak saja ke pantainya. Begitu.

Sepanjang perjalanan, saya melewati kompleks Pertamina. Tangki-tangki besar (yang saya ketahui ternyata itu yang namanya kilang minyak) berjejer bak perumahan. Isinya hanya satu: minyak. Asik kali ya kalau ambil satu kilang, terus disimpan di deket kosan. Mungkin saya bisa menghemat uang bensin motor selama, yaaa, empat tahun ke depan. Ada pun tugu kilang minyak, saking dekatnya ia dengan kegiatan mengeksplorasi minyak. Tugu ini setahu saya milik Pertamina, walau banyak perusahaan minyak asing yang numpang nyedot minyak di Balikpapan. Gambar Tugu Kilang Minyak saya ambil dari internet, karena saya tidak sempat berhenti dari angkot untuk sekedar foto-foto.

Eh sebentar, kok Tugu Kilang Minyaknya berlambang Chevr*n yah? Seingat saya Pertamina. Ahh, abaikan.

Masih di Jalan Sudirman, saya akhirnya memberhentikan diri di depan Monpera (yang baru saya ketahui kepanjangannya adalah Monumen Perjuangan Rakyat). Ahh, backpacker macam apa ini, informasinya tidak lengkap! *doh!

Tiket masuk Monpera ini hanya Rp 500. Luar biasa. Monpera juga bersebelahan dengan sebuah pantai, yang namanya (belakangan baru saya tahu juga) adalah Pantai Monpera. Pantai ini sepi pengunjung. Hanya terlihat beberapa keluarga bermain dengan anaknya, sepasang kekasih sedang memadu cinta, dan geng pemuda yang sedang menyulut rokok sambil berbagi cerita. Saya yang sendirian hanya bisa autis berfoto dengan mengandalkan self-capture dari kamera tua saya. Nelangsa sekali, bukan?

*Mas, menikmati sekali ya kelihatannya!? Awas saja kalau kau tak segera menghadap bapaknya dan minta izin melamar.

Menyadari bahwa uang semakin menipis akibat kalap berbelanja di Kebun Sayur, saya putuskan kembali menelusuri Jalan Sudirman untuk mencari ATM. Ada, ternyata, di sebelah gedung PT Pos Indonesia.

The funny thing was that picture. Jam buka kok nanggung sih, mas?

Selanjutnya, saya menuju suatu pojokan, masih di kota Balikpapan, yaitu Kawasan Kuliner Balikpapan. Namun tak disangka tak dinyana, kawasan tersebut masih sepi. Kata orang, biasanya rame kalau sudah pukul 17.00, saat orang-orang sudah pulang kantor dan sedang ber-JJS alias Jalan-jalan Sore. Tuh kan, satu bukti lagi betapa tidak preparenya backpacker yang satu ini.

Tak lama dari kawasan kuliner, saya menemui kantor Walikota Balikpapan. Nah, disinilah saya baru tahu bahwa simbol Balikpapan adalah Beruang Madu. Karena patung di taman Kantor Walikotanya adalah Beruang Madu.

Kalau beruang madunya sekecil itu, lucu ya?

Konon banyak warga Balikpapan yang tidak mengetahui bahwa simbol kotanya adalah Beruang Madu. Awalnya saya ingin mengumpat tanda mengejek mereka. Tapi saya sadar, mungkin mereka sama saja seperti saya yang tidak tahu binatang khas Bandung yang ternyata (setelah googling juga) adalah burung Cangkurileung (burung Kutilang). Nah lo, kan? Mana ada yang tahu bahwa kutilang adalah nama burung, bukan hanya sekedar singkatan dari Kurus Tinggi Langsing. *doh!

Setelah lelah dengan semua kegamangan dunia (eh?), saya menuju tempat yang disarankan seorang mas-mas di kantor (Gilang namanya, kalau saya tidak lupa). Ialah Balikpapan Super Block (BSB). Seperti mall pada umumnya, BSB saya gunakan sebagai ajang untuk beradem-adem ria setelah seharian berkeringat bau di jalan raya. Alhamdulillah.

Dari BSB ini, satu tas cantik dan sepatu cantik yang keduanya sedang banting harga besar-besaran pun terbawa serta. Sungguh seorang pribadi yang sangat tidak prepare, kan?

Ooh, ya. Tak ada yang afdhol saat backpacking namun tidak serta mencicipi kuliner khas daerah setempat. Jadi saya jadikan Soto Banjar sebagai makan malam saya. Harusnya kepiting, sih. Namun apa daya, tubuh saya tak mampu menghalau serangan bentol yang terjadi setelahnya. So, this is the last dinner I had in Balikpapan.

What an unplanned-but-nice Balikpapan trip I had. Especially with those brand new bag and shoes :) .





Pria Bertanggungjawab Itu … Kayak Gini

7 05 2012

Sanur:   Ayah, mama kira-kira sampai kapan di rumah sakit Jakarta? Macam nisa pengen jenguk deh. Nisa baru ada UAS tanggal 10-an sih.

Ayah:    Ayah tunggu hasil lab dan endoskopi serta analisis Dokter besok siang. Mudah-mudahan besok bisa keluar atau paling lambat Rabu pagi, langsung sama ayah ke Bandung. Kayaknya kalau gak keburu kamu gak perlu kesini deh. Capek di jalan.

Sanur:   Ooh gitu. Oke deh. Tapi kan Kamis ayah harus meeting ke Denpasar?

Ayah:    Gak apa-apa. Lumayan bisa nemenin mama sehari di Bandung kan. Kalau kondisi mama belum baik, ayah akan batalkan agenda ke Denpasar, dan minta bos atau temen ayah yang gantikan.

Sanur:   Widiih, suami yang sangat bertanggungjawab. Aaahhh..


Begini niih. Yang kayak gini, sist! Kongkrit.





Tentang Budaya dan Cara Mendidik

5 05 2012

Malam ini, di kamar kost berukuran 3 x 5 m, saya menyempatkan diri untuk beralih sejenak dari kejenuhan tugas akhir dengan membaca buku Indonesia Mengajar. Sebuah buku pinjaman dari Marsha, seorang teman yang selalu menjadi mood buster saya untuk tetap dalam cita-cita membangun sekolah.

Dalam suatu bagian buku tersebut, diceritakan mengenai pengalaman seorang Pengajar Muda yang mengajar di Halmahera Selatan. Dalam kesehariannya, memukul anak jika melakukan kesalahan itu biasa. Mengangkat tangan mengisyaratkan tamparan jika membantah juga sudah wajar. Tak sedikit ditemui bekas-bekas luka, baik yang lama atau baru, yang ada di beberapa bagian tubuh anak-anaknya. Waduh!

Hal ini mengingatkan saya kepada pengalaman saya mengajar anak-anak yatim piatu di LSM di Kuala Lumpur, beberapa tahun lalu. Saya mengajar anak Malaysia keturunan India. Anak-anak tersebut mayoritas duduk di bangku sekolah dasar, ada juga yang sudah beranjak dewasa di sekolah lanjutan pertama. Bercengkrama dengan guru dari luar negeri membuat mereka bertanya segala hal sepanjang hari. Sanur sister, the price of candy in Indonesia, how much, sister? Dan saya menjawab harga termurah adalah Rp 500. Dan mereka terkejut dan melongo. Candy is expensive. Saya hanya tertawa dalam hati, itu hanya masalah nominal uang saja, dek!

Keluguan itu tidak selalu saya lihat ternyata. Apalagi ketika sudah tiba waktunya belajar serius. Matematika misalnya. Maka anak-anak langsung berkeliling di sekitar saya dengan buku pelajaran di depannya. Nah, kali ini saya yang giliran melongo dan terkaget. Saat mereka tidak mampu menjawab pertanyaan atau tidak mengerti akan satu soal, kakak yang lebih tua akan mengajari mereka. Namun ketika adiknya selalu tidak bisa menjawab pertanyaan, maka sang kakak seketika memukul kepala adiknya sambil berkata dalam bahasa Tamil. Entah apapun artinya, semoga saja “Hey, dek. Jawaban kamu nyaris benar! Tapi masih belum benar. Coba lagi!”

Tidak hanya memukul kepala. Menjewer telinga juga dilakukan. Kadang sampai ada yang nyaris menangis, namun ditahan-tahan, mungkin takut tempelengan berikutnya mendarat di kepala lagi. Kebiasaan mereka yang lain adalah berkata bersahutan dengan suara yang keras, bahkan saat berbicara pada orang yang lebih tua. Sulit untuk membedakan apakah ia sedang marah atau sedang memberi tahu sesuatu. Namun saya yakin saat mereka menempeleng adik-adiknya saat belajar, kata-kata yang keluar adalah sedikit berbau kekesalan.

Pernah saya sedang mengajar pelajaran matematika kepada seorang anak balita. Ia masih kecil, sehingga bukan matematika rumit yang saya ajarkan, melainkan hanya memperkenalkan angka dalam bahasa Inggris. Namun yang ia lakukan malah mencoret-coret kertas tersebut hingga robek. Melihat kenakalan itu, anak yang lebih tua memarahinya, kemudian berkata Hit, sister! Hit. Saya hanya menggeleng, tanda tak mau. Sejak saat itu saya buat peraturan untuk tidak memukul orang lain selama belajar dengan saya. Tapi ternyata mendidik anak hanya selama dua bulan tidak semudah membalik telapak tangan.

Kontras dengan tulisan Prof. Rhenald Kasali, Guru Besar FE UI, dalam suatu artikel yang saya tulis ulang dalam akun facebook (di sini). Artikel tersebut mengenai pendidikan di Amerika yang tidak memberlakukan hukuman kepada anak yang tidak dapat menjawab soal. Anak yang salah menjawab soal malah diberi pujian. Encouragement. Mereka memuji untuk merangsang anak-anak berpikir lebih baik. Mereka percaya orang hebat tidak dibentuk dari tekanan, ancaman, dan takut akan hukuman.

Apakah dari parameter tersebut dapat ditarik korelasi dengan kemajuan suatu bangsa? Karena jika ya, mungkin ini menjadi tanda untuk segera menyadari pentingnya kemampuan mendidik. Kelak anak-anak muda akan menjadi orang tua, dan kualitas suatu negara ditentukan oleh kualitas mendidik ayah dan ibunya. Benar, kan?

 








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.