Engkau Masih Satu-satunya

20 09 2014

Sepertinya kita berhasil
Lihat, seberapa jauh kita sudah melangkah, sayang
Kita pasti sudah melalui jalan yang panjang
Namun kita tahu kita pasti sampai ke tujuan kita suatu hari

Mereka bilang “ah, mereka tak mungkin bersama”
Tapi lihat sekarang, kita saling berpegangan tangan
Kita masih bersama, masih selalu menyayangi.

Engkau masih satu-satunya tempat kukembali
Satu-satunya yang kumiliki
Engkau masih satu-satunya yang kumau dalam hidup ini
Engkau masih satu-satunya yang kucinta
Satu-satunya yang kuimpikan
Engkau masih satu-satunya yang kukecup mesra.

Tak ada yang lebih baik dari ini
Kita berhasil mengarunginya bersama
Kita tidak pernah merisaukan mereka
Jika ya, apa yang akan terjadi pada kita nantinya?
Mereka bilang “ah, mereka tak akan bersama”
Tapi lihat sekarang, kita saling berpegangan tangan
Kita masih bersama, masih selalu menyayangi.

Aku senang kita dapat melaluinya
Lihat, sudah berapa jauh kita melangkah, sayang.

(Shania Twain)





What the (or I) think life is for?

7 06 2014

Kamis, 7 Februari 2013

Hujan itu adalah berkah. Setidaknya untuk aktivitas tambang batu bara. Saat hujan, semua kagiatan operasi harus berhenti karena halan yang licin membahayakan unit alat berat untuk dipaksa gerak. Berkah juga, karena sedikit waktu sempit ini dapat digunakan untuk sekedar membuka-buka Recent Activities teman-teman di BBM. Scroll down terus disentuh, ternyata banyak teman yang mengubah foto profilnya. Tak sedikit juag yang membeberkan rencananya ingin ber-ice skating, atau ke pameran buku, diskon Body Shop, atau hanya sekedar makan spaghetti buatannya di rumah.

Di tengah hiruk-pikuk bunti radio walkie-talkie, 15 layar komputer yang menyala 24 jam, dan bunyi hujan rintik ini tetiba saya terpikir tentang status apa yang ingin saya umbar ke antero pengguna BBM. ‘Operator HD ini susah banget deh diatur’. Atau ‘Duh, hujan turun, kegiatan dispatching jadi free’. Hmm, tampak tidak begitu seru untuk dibagikan. Atau mengunggah foto profil berlatar belakang mobil truk jumbo, atau kontur lembah yang dulunya gunung namun jadi ‘legok’ digali bahan mineralnya? Atau mesin drill yang sedang membor lubang untuk nantinya diledakkan? Sangat tidak menarik untuk diumbar di social media ini.

So I think of what are they think life is? Shopping? Buy fashionable stuff then took a photo wearing it? Cook spaghetty and enjoy it as dinner with warm family? Enjoy malls, ice skating, or catch up in ease then have lunch with friends at the resto? Is that what we call life?

Or what am I think life is? Kill my time for watching jumbo trucks? Able to hang out only to small city and buy stuffs only if it is necessary because they don’t have other entertaining stuff to be offered? Cook instant noodle and enjoy it with friends in a really exhausted boyd after sunburned in the field? Is that what we call life?

So wondering how every person’s choice is somehow could be really different like two poles. What does life, then?





Sang Maestro Nuklir

7 06 2014

Berawal dari aktivitas santai membaca Koran Jawa Pos sepulang kantor sambil menunggu waktu shalat Magrib, saya (selalu) tertarik dengan karikatur wajah Dahlan Iskan di sampul depan, dalam kolom Manufacturing Hope. Dan seperti biasa pula, saya membaca kolom tersebut pertama kali. Kali ini beliau bercerita mengenai PT Batan Teknologi (BatanTek), BUMN di bidang teknologi nuklir beserta orang-orang hebat di dalamnya, dan program-program hebat pula. Setelah membaca baris demi baris, perhatian saya tertuju pada nama Ir. Yudiutomo Imardjoko MSc., Ph.D. , ilmuwan nuklir sekaligus direktur utama BatanTek. Niat awal segera berganti pakaian pun saya tunda sesaat dan alih-alih mengambil kotak roti unyil sebagai teman membaca lebih lanjut ulasan kolom di Koran tersebut.

Yudianto, salah satu alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Teknik Nuklir. Setelah kuliah, Ia meraih beasiswa untuk melanjutkan studi magister dan doktornya di bidang ilmu nuklir di Iowa State University. Hebatnya, ia mampu menempuh jenjang tersebut hanya dalam waktu enam tahun, sehingga menjadikannya berhasil meraih gelar doktor di usia muda, yaitu 32 tahun.

Kehebatannya di bidang nuklir semakin menonjol di Amerika, saat ia memenangi tender dari pemerintah US untuk desain penampung limbah nuklir. Ketika itu, pemerintah AS membutuhkan penampungan limbah nuklir untuk ratusan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN)-nya. Ratusan ilmuwan nuklir di seluruh dunia unjuk gigi dalam kompetisi tersebut. Yudianto tampil dengan desain penampung limbah nuklir yang lebih efisien dan aman.

Sebelumnya penanganan limbah nuklir membutuhkan tiga jenis kontainer, yakni kontainer pengambil limbah dari reaktor, lalu dipindahkan ke kontainer menuju tempat penyimpanan, dan terakhir ke kontainer yang ditanam di dalam tanah. Semakin sering dipindah, risiko bocornya radiasi semakin besar, sehingga Ia merancang kontainer multipurpose. Kontainer tersebut dirancang untuk dapat ditanam sedalam 400-600 meter dengan umur pakai 10.000 tahun hingga limbah nuklir terurai secara alami.

Kontribusi untuk Negeri

Setelah lulus dari UGM, Yudi mendaftar menjadi dosen di UGM dengan status CPNS. Tak lama berselang, ia melanjutkan studi S-2 dan S-3 di Amerika Serikat melalui beasiswa yang diperolehnya. Karena prestasinya dalam desain pembuatan penampung limbah nuklir, ia dilirik oleh dosen tempat ia bersekolah di Amerika, untuk ikut mengajar teknik nuklir. Tawaran gajinya menggiurkan, yaitu USD 8.000 atau sekitar Rp 16 juta per bulan (saat kurs Rp 2.000/USD).  Tawaran tersebut ditolaknya, sebab sejak awal Yudi berniat untuk mengembangkan ilmu dan teknologi nuklir di Indonesia dengan menjadi dosen di UGM, walau pun dengan gaji yang hanya Rp 200 ribu per bulan. Yudi pun akhirnya menjabat sebagai direktur Pusat Studi Energi UGM dan sebagai konsultan berbagai perusahaan energi.

Setelah 25 tahun mengajar, Yudi mencoba tantangan baru untuk memperluas lingkup kerjanya, yaitu sebagai konsultan energi untuk PBB di New York. Namun, baru lima bulan berada di AS, ia mendapatkan informasi lowongan untuk posisi direksi di PT Inuki, nama baru untuk BatanTek,  sebuah BUMN yang bergerak di bidang nuklir. Inuki sendiri adalah kepanjangan dari Industri Nuklir Indonesia. Hatinya lagi-lagi tergerak untuk menyumbangkan ilmu dan tenaganya untuk tanah air.

Berkarir di BUMN

Pada 26 Juli 2011, Yudi resmi diangkat sebagai direktur utama PT Inuki. Amanah tersebut merupakan tantangan bagi Yudi, karena saat itu BatanTek sedang mengalami penurunan produksi radioisotop, akibat reaktor di Serpong yang sudah berumur 50 tahun dan sering rusak. Reaktor itu pun dimiliki oleh lembaga negara, yaitu Batan, di luar kewenangan PT Inuki selaku BUMN.  Di sisi lain, PT Inuki pun baru saja terlepas dari persoalan finansial yang amat panjang. Selain itu, Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) mengeluarkan larangan pengayaan uranium tingkat tinggi.

Perlu diketahui, bahwa Indonesia adalah salah satu dari sembilan negara produsen radioisotop terbesar. Radioisotop bermanfaat besar di dunia medis modern dalam hal diagnosis dengan presisi tinggi. Rumah sakit di Indonesia sudah menjalin kontrak ekspor dengan berbagai negara yang tidak mampu membuat radioisotop seperti Singapura, Malaysia, dan beberapa negara lainnya. Dengan kendala tersebut, ekspor radioisotop Indonesia terancam turun. Banyak rumah sakit yang akan mengalami krisis radioisotop akibat tidak tercukupinya bahan baku.

Hal ini tidak membuatnya patah semangat. Yudi bertekad untuk menjajaki negara di Amerika dan Eropa untuk mengajak kerjasama di bidang riset reaktor nuklir. Hasil dari perjalanannya bersama dengan rekan kuliahnya di UGM, Dr. Kusnanto, ke berbagai negara untuk menjalin kerjasama ternyata Yudi menemukan sesuatu yang lebih mutakhir dari teknologi reaktor nuklir, yaitu pengayaan uranium dengan teknologi fusi plasma. Penemuan yang masih sangat baru dan belum banyak yang tahu.

Perkembangan Masterpiece

“Di seluruh dunia, hanya putra Indonesia, Yudiutomo yang bisa melakukan itu” kata Dahlan Iskan, Menteri BUMN, melalui tulisannya di Manufacturing Hope. Yudi dan rekannya, Kusnanto, berhasil mengembangkan proses produksi neutron menjadi radioisotop dengan proses yang tidak memungkinkan unsur tersebut berubah menjadi senjata nuklir. Formulasi ini pun dinamai oleh Dahlan Iskan sebagai ‘Formula Y-K’, singkatan dari ‘Formula Yudi-Kusnanto’. Formula ini pun menjadi dasar dari penandatanganan kerjasama selanjutnya dengan pihak-pihak lain untuk mengembangkan teknologi ini. Tanggal 16 Juni 2014 mendatang, penandatanganan kesepakatan kerjasama akan dilakukan di Madison, Wisconsin, AS bersa,a dengan pihak Amerika.

Sebait penutup saya cuplik, masih dari tulisan Dahlan Iskan di kolom Manufacturing Hope, Jawa Pos 3 Juni 2014. “…Paulo Coelho yang dalam novel-novel spiritualnya menyiratkan, justru keberuntunganlah yang selalu mencari-cari orang yang bersedia dicipratinya. Tapi sayangnya, ‘ia’hanya mau mencipratkannya keapda orang-orang yang kuat berjalan jauh dengan totalitas dan ketulusan penuh untuk mendatanginya”





Perbaiki Cara Berpikir

11 05 2014

Di Palembang, dalam forum rektor yang digelar di kampus Universitas Sriwijaya kemarin, saya bertemu banyak dosen dan mahasiswa. Dengan orasi sangat berapi-api, seorang mahasiswa mengajukan pandangan-pandangan dan pertanyaannya. Tapi sebenarnya itu lebih bersifat orasi. Entah mengapa sekarang banyak sekali mahasiswa yang senang bicara dengan nadasuara meninggi, berteriak-teriak seperti seorang motivator yang, maaf, kurang terdidik. Atau barangkali juga mirip politisi yang sering kita lihat di TV, yang bicara, maaf lagi, ngawur-ngawuan, serba negatif.

Namanya juga sedang ada bola panas elpiji Pertamina, semua orang senang mengangkatnya, lalu ada yang melakukan smes tajam. Jadilah proses berpikir-bertindak yang linear dan sama sekali tidak kreatif. Mengalir dari segala sisi, lalu membentuk tekanan, dan meledak di atas, dan efeknya negarif kemana-mana. Yang di atas pun meng-entertain­nyademi terbentukorkestra dangdut yang membuat ‘semua orang senang’, at any cost.

‘Menyengsarakan Rakyat’

Seperti kebanyakan orantor ‘rakyat’, anak muda yang berpakaia seperti kebanyakan remaja yang modis itu mulai menuding sulitnya kehidupan. Dan dia merasakan bahwa harga elpiji yang mahal membuat kehidupan susah.

Di atas panggung, narasumbernya adalah mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla (JK) yang dikenal luas sebagai arsitek transformasi minyak tanah menjadi gas. JK dikenal juga sebagai figur yang rasional dan selalu punya ‘jalan keluar’.

Dengan kata lain, pikirannya tidak linear seperti kebanyakan cara berpikir awam yang selalu menduga habis A maka B, lalu C. Melalui gabungan cara berpikir kreatif dan berpikir kritis, muncul lateral thingking seperti ditemukan Edward de Bono (1967). Itu melahirkan cara berpikir yang mengejutkan karena bukan pikiran yang biasa-biasa sja, yang populer terbawa arus.

Yang populer terbawa arus itulah, sepertinya yang ada di kepala politisi yang kurang cerdik, lalu logikanya dipakai anak-anak muda dan dituruti oleh pemimpin-pemimpin tertentu yang takut kehilangan popularitas. Takut menghadapi realitas. Takut menghadapi cara berpikir rakyat yang butuh waktu untuk paham dan melakukan sesuatu yang sesungguhnya jauh lebih baik bagi rakyat itu sendiri di masa depan.

Bukankah kemampuan berpikir manusia berlapis-lapis? Lapisan paling depan adalah fakta yang kasatmata seperti yang sehari-hari kita lihat. Nah, di belakang lapisan ini ada labirin-labirin fakta yang hanya bisa dilihat melalui keacamata berpikir lateral yang membutuhkan kecerdasan, kreativitas, dan pengetahuan.

Yang kasatmata itu adalah snapshot, fakta apa-siapa-di mana, yaitu berita pendek di media sosial yang cepat menyebar. Orang ngotot benar karena merasabenar dari fakta lapis satu yang baru dilihatnya. Di belakang itu, media social perlu waktu untuk menggalinya, menerangkan ‘how and why’ lapis satu. Lapis dua, lapis tiga, hingga bertemu wujud ‘udah di balik batunya’.

Di lapis satu itu, kita paling mudah menyajikan fakta-fakta sederhana: Orang berteriak harga naik, barang hilang, perusahaan rugi, komplain spontan. Lalu, di lapis kedua, menteri-menteri berteriak, saling menyalahkan, saling mengklaim karena merespons teriakan yang kasatmata di lapis satu. Mereka semua melupakan pikiran di lapis ketujuh yang terbentuk dari perbuatan-perbuatan dan kebijakan yang mereka ambil di masa lalu karena tak kasatmata, tak bisa dilihat rakyat.

Mereka abaikan kajian-kajian ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, ancaman terhadap kesejahteraan, daya saing, keruntuhan ekonomi, defisit keuangan, krisis yang lebih berbahaya di masa depan, akibat-akibat yang lebih negatif bagi rakyat kecil yang tidak kasatmata. Semua itu menjadi rumit dijelaskan ketika ‘keadilan’ tidak didapatkan sehingga menjadi sangat emosional dan membentuk mental blockage yang kuat.

Seperti anak muda tadi, yang dengan gagah ‘menjual’ tema-tema kesengsaraan rakyat. Ini jelas memerlukan kejernihan baru, ibarat membuka siung bawang yang terasa pedas di mata. Anak muda itu mengeluhkan harga elpiji yang membuat hidupnya susah. JK memperbaiki cara berpikirnya.

“Anda memakai LPG 3kg atau 12 kg?”

Anak muda itu sulit menjawab. Dia mengatakan 12 kg dengan suara yang kurang meyakinkan.

“Nah, elpiji 12 kilo itu bukan barang subsidi. Kalau hidupmu masih susah, pakai saja barang subsidi yang 3kg. Orang tuamu bekerja?”

“Tani, Pak?”

“Yang benar?” tanya JK. Dan itu pula yang ada dalam pikiran saya.

“Tani apa? Kebun?”

“Ya, Pak”

“Karet, atau sawit?”

Anak muda itu menyebut salah satu dan semua orang tertawa.

“Janganlah engkau meminta uang negara untuk memasak di rumah kalau engkau sudah cukup mampu,” nasihat JK.

Saya pikir, ini banyak benarnya. Ketidakmampuan berpikir lateral telah membuat kebanyakan kita bersepakat untuk mengikuti arus besar yang beredar. Padahal, betapa berbahayanya dan tidak adilnya bila rakyat kaya yang mampu membeli bergalon-galon air mahal dalam kemasan tanpa melihat harganya meminta subsidi gas dari negara.

Lalu, kita semua bereriak, seakan-akan tak ada keadilan, rakyat tak diberi subsidi, seakan-akan harga gas semuanya naik. Lalu, dengan lugunya menteri-meneri mengatakan seharusnya gas jangan dinaikkan, harus koordinasikan dulu. Mengapa orang pandai itu kacau cara berpikirknya dan menyamakan kebijakan yang sudah diambilnya sendiri? Lalu yang tak bersalah, yang berpikir logis, justru harus meminta maaf dan dipersalahkan?

Kita perlu memperbaiki cara berpikir bangsa, bukan melumpuhkannya dengan berfoya-foya hari ini sambil mengorbankan masa depan. Saya ngeri melihat negeri yang bersenang-senang yang sudah mirip Yunani dan Spanyol yang menanggung bebab saat generasi beriku memimpin. Betapa banyak bom waktu yang kita biarkan ditanam oleh generasi ini. Ayo perbaiki cara berpikir!

Rhenald Kasali

Jawa Pos, Jumat 10 Januari 2014, hal 19.

 





Peran Ilmu Teknik Industri di Industri Pertambangan

4 05 2014

Sering saya ditanya, apakah saya berkuliah di jurusan Teknik Pertambangan, karena bekerja di industry pertambangan. Saya jelaskan bahwa saya berkuliah di jurusan Teknik Industri. Roman muka si penanya berubah, terlebih saat ia bertanya, “Ngapain aja kerjanya di pertambangan?”


 

Tak ayal beberapa orang memang masih berpendapat bahwa jika bekerja di pertambangan, maka ia orang tambang. Bekerja di industry provider seluler, pastilah ia orang telekomunikasi. Bekerja di bank, pastilah ia seorang akuntan. Bekerja di pupuk kandang, pastilah ia orang peternakan. Hal tersebut tidak salah, mayoritas industry akan merekrut orang yang memang belajar di konsep dasar serupa. Namun hal tersebut juga tidak benar, karena industri pun memiliki rantai proses bisninsnya sendiri yang tidak memungkinkannya berdiri di satu bidang ilmu saja.

Inti bisnis pertambangan adalah mulai dari perencanaan eksplorasi (pencarian sumber mineral), eksploitasi (pengerjaan operasional mineral), proses (memroses bahan mineral pra jual), serta pemasaran mineral.

Sederhananya, aktivitas inti pertambangan dimulai dari aktivitas perencanaan kelayakan proses, eksplorasi sampling mineral batuan pembersihan vegetasi di permukaan tanah, teknik menambang yang aman dan efisien, teknik pemisahan materialnya, sampai pemasaran kepada stakeholder. Oleh karena itu, untuk membangun system operasional penambangan yang menguntungkan, diperlukan pengetahuan dan keterampilan bidang ilmu teknik pertambangan, teknik geologi, teknik sipil, dan juga teknik geodesi dan geomatika.

Di sisi lain, bidang ilmu teknik industri mempelajari tentang perencanaan, monitoring, dan control aktivitas industri yang menitikberatkan pada proses yang efektif, efisien, dan aman. Titik berat ilmu teknik industri adalah kemampuan dalam membuat proses menjadi efisien dan menguntungkan, sehingga untuk melakukan hal tersebut, kemampuan yang harus dimiliki adalah kemampuan untuk mengenali makro proses bisnis, kemudian menjabarkannya ke dalam sub-sub proses, dan dengan ilmu optimasi yang dimilikinya, terbentuklah system industri yang memenuhi tiga kaidah di atas: efektif, efisien, dan aman-sehat-nyaman. Selama suatu industri memiliki unsur manusia, mesin, metode/proses, uang, dan lingkungan, maka disitu pulalah ilmu teknik industri dapat diterapkan, termasuk juga di industri pertambangan.

Kemampuan Teknik Industri di Industri Pertambangan

Perlu dibedakan antara ‘sarjana teknik industri’ dengan ‘keterampilan teknik industri’ jika berbicara mengenai perannya di sebuah perusahaan atau industri. Dalam industri pertambangan (dan dalam industri lainnya), kemampuanlah yang lebih dilihat, terlepas dari embel-embel sarjana yang melekat pada orang tersebut. Sebagai contoh, pelaku pemasaran produk tidak terbatas pada sarjana manajemen, namun dapat dilakukan pula oleh seorang sarjana teknik mesin yang memilki keterampilan pemasaran yang baik, walaupun ilmunya didapat dari pembelajaran mandiri atau pengalaman terjun ke lapangan. Namun begitu, sarjana manajemen yang memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan pemasaran akan sangat baik hasil kerjanya.

Dalam proses pertambangan, kemampuan teknik industri dapat dikontribusikan pada siub proses berikut:

  1. Proses analisis kelayakan investasi tambang.
    Proses ini berkutat pada analisis kelayakan penambangan dilihat dari sisi cost dan revenue-nya. Ilmu teknik industri mempelajari tentang analisis biaya, manajemen risiko industri, dan analisis manajemen lainnya yang menunjang pengambilan keputusan untuk meneruskan project atau menghentikannya.
    Tentu, seseorang dengan kemampuan analisis biaya tidak dapat bekerja sendiri, karena analisis kelayakan pun melibatkan analisis ketahanan lereng, kemudah-tambangan, kemudah-jualan bahan mineral yang ditambang, yang itu semua dapat dilakukan oleh orang dengan ilmu teknik pertambangan, teknik geologi, dan teknik sipil.
  2. Proses evaluasi performa operasional pertambangan
    Saat sudah memasuki tahap pengerjaan operasional tambang secara rutin, maka keberjalanya perlu dibarengi dengan sistem monitoring dan controlling, yang hasilnya berupa rekomendasi dan strategi memperbaiki system yang berjalan. Dalam hal ini, ilmu teknik industri dapat banyak berperan.

    Contoh sederhana adalah pada proses penambangan mineral, dimana pekerjaan dituntut untuk efisien agar memenuhi target bulanan yang ditetapkan. Produksi per jam yang dihasilkan harus dibandignkan dengan cost berupa harga bahan bakar per jam yang dikeluarkan, harga depresiasi mesin, harga gaji operator, dan lain-lain agar dapat ditentukan apakah dengan system menambang itu dapat menuai untung atau malah merugi. Kemampan analisis yang baik akan banyak didukung oleh keterampilan di bidang statistik dan rekayasa proses.

    Contoh lainnya adalah pada perencanan berapa jumlah truk yang harus diberikan kepada sebuah ekskavator untuk melakukan aktivitas mengeruk tanah, dan dibuang ke daerah buangan (disposal). Di sini, ekskavator akan mengeruk tanah (atau mineral) kemudian diangkut oleh truk jumbo. Truk akan berangkat ke area pembuangan tanah, kemudian kembali lagi ke area ekskavator. Ketika jumlah ekskavator dianggap sebagai server, dengan waktu layan tertentu, dan dengan jarak tempuh truk dari ekskavator ke tempat buangan, maka penentuan jumlah truk agar siklus tersebut berjalan dapat ditentukan dengan analisis dari teori antrian, teori shortest path, dan teori penjadwalan.

  3. Proses perancanaan dan pemantauan implementasi sistem kerja aman dan sehat.
    Sub ilmu teknik industri di bidang Ergonomi dan Kesehatan Kerja akan sangat banyak berkontribusi di bidang pertambangan, khususnya di bidang manajemen K3. Di sini, ilmu ergonomi dapat diterapkan untuk mengevaluasi sistem yang berjalan, atau membuat sistem baru (melalui analisis kelayakan, tentunya) sebagai perbaikan.
    Scope ergonominya pun luas, mulai dari ergonomi mikro seperti penilaiain risiko kerja di kantor, di bengkel/workshop, maupun di lapangan, serta ergonomi makro, seperti penilaian budaya selamat (safety culture), fatigue management, serta sistem strategis untuk penerapan SHE jangka panjang.
  4. Sistem rantai suplai dan penggudangan (supply chain and warehousing)
    Perusahaan pertambangan tidak lepas dari kebutuhan logistik yang mendukung, mulai dari logistik yang berkaitan dengan operasional tambang (alat berat, bahan peledak, alat pelindung diri), maupun untuk kegiatan pendukungnya (perlengkapan kantor, bahan bangunan, dll). Ilmu optimasi rantai suplai, logistik, dan penggudangan dibutuhkan untuk memastikan proses pemesanan dan permintaan dapat berjalan seimbang.
  5. Sistem penjadwalan pengapalan bahan mineral
    Dalam sub proses pengapalan, atau dikenal dengan istilah barging, ilmu yang dipakai adalah penjadwalan produksi (yang fleksibel diterapkn sesuai ruang lingkup pengapalan). Ilmu ini menghasilkan jadwal yang optimal yang memastikan ketersediaan bahan mineral (pasca proses) dapat dikirim saat kapal tongkang sudah merapat. Tidak hanya optimasi waktu, namun juga optimasi jumlah stok bahan mineral yang harus memenuhi kapasitas kapal tongkang tersebut.
  1. Dan lain-lain.

Keilmuan di atas tentunya banyak dimiliki oleh sarjana Teknik Industri, namun bisa jadi orang dengan latar belakang berbeda namun memiliki salah satu dari keahlian di atas yang dapat berkontribusi lebih banyak. Alangkah lebih baik, jika ilmu yang sudah dipelajari juga dibarengi dengan pengembangan keterampilan, sehingga setelah lulus, seorang sarjana Teknik Industri dapat lebih banyak berkontribusi di peran proses manapun. 





This is Challenge

18 04 2014

Living in a remote area is never been easy. Been almost 1,5 years spending my time in this area brought me into the whole confusing yet ambigous life perspective.

Just like tonight. Totally awake in the dawn for only surfing out a news that can lighten my dark.

… but results nothing.





Sepucuk Pikir

26 01 2014

Dinginnya malam hari ini berbeda dengan dingin di malam biasanya
Sepinya malam ini berbeda dengan sepi di malam sebelumnya
Ada dinamika rasa yang sungguh kuat – jika tidak dapat dikatakan mengganggu
Yang terus menerus berkelebat dalam kepalaku

Ini tentang rasa ingin memiliki yang teramat sangat
Dibalut rasa rindu yang teramat kuat
Yang tak mampu terungkap walau dalam surat
Yang berujung terpendam dalam sebuah hasrat

Kuakui, aku kering dan nestapa
Tapi kupercaya ada sumber airnya
Yang mampu melepas dahagaku untuk mencari tahu
Yang mampu menumbuhkan semangat agar kumau mewujudkan itu

Aku akui, aku dangkal dan goyah
Tapi kuyakin akar pendirian kokohnya
Yang mampu menjagaku dari sapuan badai nafsu dunia
Yang mengajakku selami ilmu dengan cara pikir yang harus dalam

Hanya perlu membuatku layak mendapat sumber airnya
Hanya perlu membuatku pantas berpegang pada akar kokohnya
Dan hanya tinggal memampukan diriku untuk dapatkan itu semua
Saat ia tiada karena Tuhan memintnya kembali ke pangkuanNya.

Sepucuk Pikir
Tanjung, 26 Januari 2014