Parenting

The Urban Mama Event: All You Need to Know About Newborn Baby (part 2)

Hamil trimester tiga membuat saya agak ‘kelabakan’. Pasalnya saya merasa due date persalinan tinggal di ujung tanduk, tapi persiapan ilmu dan latihan senam hamil sepertinya belum banyak. Walhasil saya cari banget informasi seminar kehamilan dan menyusui, dan ketemulah info seminar All You Need to Know About Newborn Baby yang diadaian oleh The Urban Mama. Dengan mengundang pembicara seorang konselor ASI, Fatimah Berliana Monika (Mbak Monik), seminar tanggal 6 Mei 2017 di fX Sudirman terasa santai namun berkualitas. Tulisan ini adalah lanjutan dari ulasan sebelumnya. Baca juga di: The Urban Mama Event: All You Need to Know About Newborn Baby (part 1)

Rooming In vs Bedding In

Masih dengan tema penanganan bayi baru lahir di rumah sakit, Mbak Monik menyampaikan pentingnya skin-to-skin contact antara Ibu (dan Bapak) bersama bayi untuk menjaga suhu bayi hangat. Namun tidak hanya itu, kontak sentuhan dengan bayi (misal dengan menggendong, memeluk, berada di dekat bayi) juga membuat Ibu belajar refleks bayi saat ingin menyusu. Untuk itu, penting sekali adanya kontak tanpa putus antara Ibu (dan Ayah) dengan bayi selama di rumah sakit. Praktik umum rumah sakit adalah dengan Rooming In, atau bayi ditempatkan di kamar rawat Ibu (bukan di kamar bayi). Namun tempat tidur bayi terpisah dengan kasur Ibu. Hal itu tidak membuat tujuan skin-to-skin contact tadi tercapai. Hal yang lebih baik adalah Bedding In, atau Ibu dan bayi berada dalam satu kasur yang sama, tanpa putus (kecuali Ibu ke kamar kecil, makan, atau aktivitas lain selain di kasur – saat itu digantikan oleh peran Ayah).

rooming_in_versus_bedding_in
Rooming In versus Bedding In

Selama bedding in, Ibu leluasa untuk hanya memberi ASI (tidak air putih, apalagi air madu. Juga tanpa susu formula jika tanpa indikasi medis). ASI diberikan 8-12 kali dalam sehari dan harus dari payudara ibu. Untuk itu jauhkan empeng atau dot ya Mommas. Selain itu dengan bedding in, ibu dapat belajar cara perlekatan (latch on) puting dan mulut bayi dengan baik sambil sesekali payudara diperah. Jangan minder dengan jumlah ASI yang sedikit di awal melahirkan, dan jangan buru-buru diberi susu formula karena bayi dapat bertahan 3×24 jam tanpa asupan air. Dan kalaupun ASI keluar sedikit tidak apa-apa karena lambung bayi baru lahir pun masih sebesar kelereng. Namun, pertimbangan medis yang lain perlu dikomunikasikan dengan dokter/bidan ya.

Rekomendasi Vaksin untuk Bayi

Topik seminar pun beralih kepada jenis vaksin yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Terdapat daftar terbaru yang dikeluarkan IDAI per 2017, sehingga semua Ibu rasanya wajib memperbaharui pengetahuannya tentang vaksin anak.

jadwal_imunisasi_per_2017_idai
Jadwal Imunisasi 2017 sumber: idai.or.id

atau bisa lihat versi .pdf di alamat ini: Jadwal Imunisasi IDAI 2017

Beberapa vaksin disubsidi oleh pemerintah, namun ada yang tidak. Nah, sayangnya vaksin yang tidak disubsidi itu harganya pun lumayan bikin orang tua merogoh kantong dalam-dalam. Menurut info, beberapa vaksin mahal tak tersubsidi antara lain Rotavirus, HPV, MMR. Kalau dipikir-pikir dibandingkan uangnya dibelikan koleksi lipstick atau baju baru, mungkin ada baiknya ditabung untuk vaksin anak. Walaupun berat, tapi kesehatan anak adalah prioritas, bukan?

“Kelainan” Normal pada Newborn

Pembahasan terakhir pada sesi pertama, Tatalaksana Perawatan Bayi selama di Rumah Sakit adalah mengenai adanya “kelainan” yang sesungguhnya normal pada bayi. “Kelainan” itu dipengaruhi oleh sisa hormon kehamilan ibu yang masih terdapat pada bayi setelah lahir. Atau bisa juga kelainan yang timbul saat proses persalinan. Tapi sifatnya hanya sementara dan akan berangsur membaik. Hal tersebut antara lain:

  1. Jerawat Bayi.
    Mitos yang beredar adalah karena bayi alergi dengan ASI, padahal jerawat bayi lebih disebabkan pengaruh hormon kehamilan ibu. Hindari bayi menggaruk kulit yang berjerawat.
  2. Molding Head (bentuk kepala lonjong aneh dan muka sembab)
    Hal ini karena adanya pengumpulan cairan di kepala dan muka bayi akibat penekanan selama proses melahirkan dengan cara normal, atau karena pengaruh alat bantu kelahiran seperti vakum kepala bayi.
  3. Lanugo (rambut halus di sekujur tubuh)
    Bayi seperti berjenggot dan berjambang serta banyak bulunya. Hal ini juga terpengaruh oleh sisa hormon kehamilan ibu.
  4. Bercak Mongol
    Adanya daerah di kulit yang membiru. Ada yang berangsur hilang, namun tak jarang bercak ini tetap ada bahkan hingga dewasa.
    Menurut saya, terlepas dari normalnya ciri tersebut, namun jika tanda di atas tak berangsur hilang, segera hubungi dokter untuk diagnosis lebih lanjut.
kelainan_normal_pada_bayi_baru_lahir
“Kelainan” Normal pada Bayi Baru Lahir. (dari berbagai sumber)

Setelah menyimak pemaparan Mbak Monik, ternyata banyak hal yang masih belum saya ketahui selaku calon Ibu. Ilmu lain yang tidak kalah penting adalah perawatan bayi saat di rumah, serta mitos-mitos mengenai perawatan bayi yang (sayangnya) masih ada di antara kita khususnya pada orangtua kita. Bener gak? Materi selanjutnya saya paparkan di post selanjutnya ya.

Baca post selanjutnya: All You Need to Know About Newborn Baby (part 3)

Happy learning, Mommas.

Advertisements

2 thoughts on “The Urban Mama Event: All You Need to Know About Newborn Baby (part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s