orang hebat punya cerita · travel

Where have I been? : De’Syukron – Pesta Rakyat dan Syukuran Jawa Barat 2012

Tanggal 15 September 2012 lalu, saya tanpa sengaja mengendarai motor melewati jalan Diponegoro, daerah di sekitar Gedung Sate, Bandung. Hari itu saya sedang mengajak Mbak Helen untuk jejalan kota Bandung, jadi saat terlihat kerumuman keramaian, saya pastikan berbelok dan memarikir motor seharga Rp 3.000

Tiba pukul 11.00, pesta rakyat ini ternyata sudah beranjak sepi. Agaknya yang ramai adalah tadi pagi saat pembukaan oleh Bapak Ahmad Heryawan selaku Gubernur Jawa Barat. Baiklah, tidak ada salahnya untuk tetap bertandang melihat-lihat, kan? Jadilah saya masuk ke pelataran Gedung Sate, sebuah pengalaman pertama mengingat selama ini panorama tersebut hanya bisa saya nikmati dari seberang jalan.

Ketinggalan acara hiburan dan pembukaan, saya dan Mbak Helen mengunjungi stand-stand pameran. Ternyata stand tersebut adalah pameran hasil karya siswa SMK di Bandung, yang berhasil membuat saya terpukau, jika tidak dikatakan ‘iri’. Baiklah, ini adalah beberapa potret hasil karya mereka.

SMK 8 Bandung – Jurusan Otomotif

 

Konon SMK 8 adalah SMK terbaik se-Bandung.  SMK yang maskulin (oh yeah!) ini memamerkan mobil rakitannya, Buggy Car. Ya, sesuai dengan jurusannya, mobil ini diproduksi oleh tangan-tangan terampil anak SMK. Saya lupa mendalami apakah mobil ini memiliki keunggulan di bidang emisi atau keunggulannya berpacu layaknya mobil balap, namun hal ini patut diacungi jempol. Anak sekolah menghasilkan karya kongkrit. Tinggal disentuh tangan-tangan enterpreneur, keunggulan mobil ini bisa dinikmati oleh khalayak lebih luas.

 

SMK 4 Bandung – Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak

Ini adalah stand yang paling lama membuat saya terpana. Hasil rekayasa perangkat lunaknya menghasilkan alat yang bernama Robotic Angklung. Idenya sederhana, angklung yang biasanya dimainkan dengan digetarkan dan dibutuhkan banyak orang untuk memainkannya, kini dapat dimainkan satu orang dengan hanya memainkan jari-jari pada ponsel. Meniru aplikasi Guitar Pro (mungkin, hehe), harmoni angklung dapat dinikmati dengan memainkan ponsel, yang agaknya, berbasis Android. Tuts papan kunci pada ponsel terhubung dengan rangkaian angklung tersebut, sehingga angklung akan bergetar sendiri. Saya tidak sempat mencoba, karena jujur saya lebih suka mendengarkan saja permainan mereka. Hehe. Sebagai orang yang pernah terlibat dalam permainan angklung, saya patut mengacungkan empat jempol untuk mereka. Nice work, fellas!

 

 

SMK 12 Bandung – Jurusan Penerbangan

SMK yang satu ini tidak mau kalah unjuk gigi, yaitu dengan memamerkan pesawat rakitannya. Pesawat Jabiru J-430 ini konon akan segera terbang. Tinggal menunggu izin dari organisasi penerbangan. Niat awalnya bukan untuk kepentingan komersil, namun lebih kepada pembelajaran mengenai bagaimana merakit pesawat. Ditambah dengan izin terbang yang akan segera di dapat, siswa SMK 12 juga akan memiliki kesempatan untuk belajar menerbangkan pesawat.

Mbak Helen in front of SMK 12 Aeroplane

 

Selain karya anak SMK, terdapat pula pameran karya buah pikir mahasiswa universitas dan lembaga negara, salah satunya adalah PT Telkom Indonesia. Namun agaknya saya terlampau terlambat, karena stand tersebut sudah tutup. Ulasan mengenai ide dari PT Telkom ini akan saya ulas lain kali.

Wisata wawasan – yang tidak disengaja- kali ini benar-benar membuat saya berpikir, where have I been? What I’ve done for these past years, while 16 year old students made an aeroplane?

Selamat, adik-adik. Pukulan kalian sangat telak, tepat sasaran kepada sarjana muda yang harus disuruh banyak berpikir dan bertindak ini, dan kepada banyak instansi pendidikan lebih tinggi untuk benar-benar merealisasikan buah pikir peserta didiknya.

Sukses terus, dek! Terus berkarya, terus membanggakan!

Hidup · orang hebat punya cerita

Komunitas, Untuk Perubahan

Beberapa hari lalu saya berkesempatan untuk menghadiri seminar yang diadakan oleh Forum Indonesia Muda (FIM) bertajuk Inspirasi Indonesia. Seminar yang diadakan selama tujuh jam ini membahas tiga tema besar, yaitu Nasionalisme, Enterpreneurship, dan Parenting. Dalam kesempatan tersebut, saya menyimak dengan baik paparan dari Ridwan Kamil, ketua forum Bandung Creative Society. Ia kali itu memaparkan mengenai arti Nasionalisme. Dan ada satu hal yang menarik dari wawasan hari itu.

Tidak seperti yang saya duga, ia tidak berkoar-koar mengenai filosofi suatu negara, menyangkut-pautkannya dengan sejarah bung Karno dan perjuangan kemerdekaan. Ia memaparkan nasionalisme sebagai bentuk cinta. Cinta terhadap negara, tentu saja. Bentuk cinta itu tidaklah muluk-muluk. Apa yang disenangi, itulah yang didalami. Dengan itu lah manusia dapat mengerahkan potensi kreatifnya, karena ia memiliki standard tinggi terhadap apa yang ia cintai.

Tidak hanya berhenti di ‘cinta’, dosen jurusan Arsitektur ITB itu pun memaparkan bahwa nasionalisme juga mengenai berbagi. Ilmu dan karya yang dikonsumsi sendiri adalah sia-sia. Berbagi atas buah pikir kita mengenai suatu masalah, itu lah yang menyebabkannya disebut ‘karya masyarakat’. Setidaknya itu pemikiran saya pribadi.

Dalam kecintaan kita terhadap negara, kita melihat begitu banyak masalah di masyarakatnya. Anak jalanan, pendidikan, kebutuhan dasar naik, transportasi macet, you name it. Masing-masing orang pasti menyadari dirinya terkungkung dalam masalah tersebut. Dan saya masih optimis banyak juga orang yang menyediakan waktunya untuk merenung, memikirkan dari pangkal masalahnya, sehingga dari situlah awal perbaikan dilakukan.

Namun, yang sering terlihat adalah mortalitas dini dari gagasan yang sudah direnungkan panjang-panjang. Gagasan itu seolah-olah mati, padahal sang yang punya pikiran belum mungkin masih ketawa-ketiwi. Setuju dengan pernyataan Kang Kamil, tahapan mengubah ide tersebut adalah dengan komunitas. Komunitas itu penting. Mengubah suatu masalah dengan gagasan yang matang tidak akan tercapai tanpa kita merangkul tangan orang untuk bekerja sama. Contoh yang beliau berikan adalah kongkrit. Lewat Bandung Creative City Forum, ia membuat komunitas yang berani membuat sesuatu. Ia bersama komunitasnya merancang (dan mengimplementasikan) sumur resapan di daerah Kopo. “Waktu itu kalau banjir, daerah tersebut bisa tiga hari terendam air. Sekarang cuma beberapa jam. Jadi nggak ada alasan lagi buat anak-anak untuk tidak sekolah lantaran banjir,” ujarnya.

Sejalan dengan ilmu yang dipelajarinya, ia juga membangun proyek untuk memberi warna pada kota, beberapa hal tak lepas dari sentuhan kreatif ala orang arsitektur. Shuttle bike salah satu ide yang tercetus. Waktu itu ia memaparkan bahwa untuk menginisiasi shuttle bike ini dananya tidak besar. Bermodalkan relasi dengan alumni kampusnya yang kuat, serta proposal ke beberapa instansi, proyek shuttle bike ini (katanya) sudah bisa dinikmati di beberapa titik di Jakarta. Tidak hanya di bidang transportasi, bapak yang biasa dipanggil Emil ini juga menginisiasi proyek Indonesia Berkebun dalam rangka memanfaatkan lahan yang menganggur di kota-kota besar. Selain memanfaatkan lahan, kebun garapan ini juga menjadi sumber energi bersih di tengah polusi kota.

Problem – Idea – Community – Culture. Empat hal tersebut yang digagas Kang Emil untuk membuat suatu perubahan. Titik tekan saya adalah pada komunitas. Tanpa komunitas, sulit untuk melakukan perubahan. Dan mengingat pembelajaran mengenai teori organisasi di bangku kuliah beberapa semester silam, bahwa suatu komunitas yang berkumpul untuk satu tujuan yang sama pasti memiliki nilai yang diyakini bersama, yang semuanya dibiasakan bersama dalam bentuk budaya organisasi. Budaya itu lah yang menguatkan keyakinan anggotanya bahwa perjalanan menuju tujuan adalah realistis. Budaya itu pula lah yang menjadi identitas pembeda suatu komunitas satu dengan yang lain. Komunitas tanpa budaya akan mati, budaya tanpa komunitas akan tidak berarti.

Lesson learned, berkomunitaslah, jika kamu ingin mengubah!

Hidup · orang hebat punya cerita

Awal Bersama, Akhir pun (Harus) Bersama

Berawal dari obrolan di depan perpustakaan, mengenai kesamaan pilihan topik tugas akhir, dilanjut obrolan di depan Lab Sistem Produksi, mengenai kesamaan (lagi) akan pilihan pembimbing, kita akhirnya menjelajah belahan Indonesia bagian lain, ke tempat yang sama-sama belum pernah kita singgahi. 

Debu dan terik di garis ekuator menjadi saksi dari awal hidup sukses kita kedepan. Hanya saja, ternyata engkau sidang duluan. Tak apa, sih, toh juga akhirnya kita berbarengan, selebrasi bulan Oktober hanya beberapa bulan.

Terimakasih atas bantuan dan sikap saling dukung. Juga atas petualangan yang telah diarung walau di pulau orang kita sempat dikurung. Terimakasih untuk mengingatkan bahwa kemampuan observatif adalah hal penting untuk jadi modal orang ulung.

 Selamat sarjana, Hanifah Kaukab, S.T.

Hidup · orang hebat punya cerita

Vin Torres

Kuala Lumpur, 21 Juni 2010

Anak lelaki itu ditemukan tertidur di depan rumah asuhan milik Appa dan Amma empat atau lima tahun lalu. Orang tuanya sengaja menaruhnya di sana, berharap seseorang dapat mengasuh dan membekalinya ilmu setinggi angkasa. Ia sekarang tumbuh menjadi anak lelaki yang cerdas.

Dibesarkan di keluarga India yang sederhana, ia termasuk pandai untuk anak yang sekarang duduk di kelas 3 SD. Dibesarkan di lingkungan berbahasa Tamil dan Malay, ia termasuk yang fasih berbicara bahasa Inggris untuk anak seusianya – entah berapa usia pastinya. Ia sangat antusias bercerita mengenai kehidupan sekolah, guru, teman, bahkan hingga pertandingan Piala Dunia. Ia pendukung berat timnas Spanyol, tapi tahu banyak tentang tim Inggris, Portugal, Brazil, Jerman, serta Korea Selatan. Saya pikir ketertarikannya itu pulalah yang membuatnya antusias menjawab pertanyaan geografi yang kami berikan, tentang negara dan ibukota masing-masing.

Anak lelaki itu tergabung dalam tim sepak bola yang kerap menjadi juara pertandingan di Malaysia. Prestasi itu pula lah yang membuat tim ini ditawari kompetisi sepak bola anak-anak yang akan berlangsung di London dalam waktu dekat. Ia girang bukan main dibuatnya.

Namun ia hari ini menangis. Harapannya terancam pupus karena ia hanyalah seorang anak yang ditemukan di depan rumah asuh milik Appa dan Amma. Tak diketahui siapa orang tuanya, bahkan kami pun masih ragu menyebutkan berapa umurnya dan kapan ia berulang tahun. Tanpa akta lahir, ia terancam tidak lolos administrasi, berarti tak bisa buat paspor, dan tak jadi ke London dan mungkin mampir sebentar ke kota sekitar untuk sekadar melihat langsung lapangan sepak bola tempat Steven Gerard berlatih.

Vinoth. Nama sederhana itu yang bisa Appa dan Amma berikan untuk anak lelaki yang ditemukan tertidur di depan rumah asuh milik mereka. Dan kesederhanaannya itu tidak berarti ia memiliki mimpi yang juga sederhana. Ia ingin menjadi pemain sepak bola tersohor seantero dunia dengan nama barunya, Vin Torres.

Sanur Sister, do you know what my name will be? Vin Torres. Vin means win, and Torres is my favourite football player. I want to be like him someday.

I really wonder, how is he doing right now.